Showing posts with label All About Work. Show all posts
Showing posts with label All About Work. Show all posts
6.01.2012
Orang Picik
6.01.2012Dunia kerja menurut saya adakah dunia yang keras. Kita tidak hanya akan bertemu orang yang mempunyai kesungguhan untuk bekerja melainkan lebih banyak orang yang terpaksa bekerja. Hal-hal seperti ini lah yang membuat seseorang menjadi picik.
Di tempat saya bekerja saat ini juga ada beberapa orang yang picik. Beberapa orang yang pernah bekerja sama dengan saya beberapa diantaranya picik. Mereka tidak menyadari kalau dengan kepicikannya itu membuat mereka terlihat BODOH. Meski usia mereka jauh di atas saya, tetapi ternyata kepicikan seseorang itu tidak bisa dilihat dari usia.
Menurut saya, jika seseorang ingin mempunyai pangkat atau gaji yang tinggi, itu harus dari kemampuan yang dimiliki nya. Bukan dengan kekuasaannya mereka berusaha menghalang-halangi seseorang.Merasa terancam karena orang lain lebih mampu, seharusnya dibuktikan dengan kemampuan murni yang dimilikinya tidak dengan menggunakan berbagai cara untuk menghambat kemajuan seseorang itu tetapi seharusnya orang yang bijak akan berusaha untuk mencari pengetahuan lebih. Kepicikan seseorang itu akan membuat perusahaan tidak bisa berkembang. Orang picik tidak bisa dikenali pada saat pertama kali bertemu dengan seseorang, bahkan beberapa kali pun kita bertemu belum tentu kita bisa mengenali.
Read More......
Labels: All About Work 1 comments
11.24.2011
New Challenge
11.24.2011
New Challenge? ya, Kira-kira 3 minggu yang lalu saya mendapatkan broadcast message dari teman saya tentang kesempatan berkarir di perusahaan yang cukup besar. Ini merupakan tawaran yang benar-benar menarik dari segi karier bagi saya. Kesempatan yang baru dan penghargaan yang baru tentunya. Awalnya saya hanya iseng melamar. Bahkan jabatan yang jelas pun saya tidak tau. Setelah saya cek di internet, ternyata yang dibutuhkan adalah cowok padahal saya sudah menyiapkan segalanya. Akhirnya saya tetap memberikan lamaran saya, tetapi saya merasa tidak akan dipanggil. Hal tak terduga terjadi 1 minggu setelahnya. Saya mendapatkan panggilan dan ternyata panggilan itu terus berlanjut. Saya benar-benar tidak menyangka, sampai akhirnya saya mendapatkan kesempatan itu.
Read More......
Read More......
Labels: About Me All About Work Life 0 comments
2.05.2010
Pengepul
2.05.2010
Cerita ini bermula sejak pertengahan tahun lalu. Saat itu saya hanya seorang anggota koperasi biasa, tetapi karena pengurus koperasi bagian pengepul mengundurkan diri dari kantor, dengan beberapa alasan akhirnya saya menerima untuk menggantikan teman saya itu menjadi seorang pengepul. Tapi saat itu saya mau dengan syarat, saya tidak akan menagih. Karena bagi saya, kegiatan menagih hutang adalah hal yang sensitif dan hal itu sebisa mungkin saya hindari. Saya sungkan kalau harus menagih hutang orang lain. Selama ini, kalau ada orang yang hutang ke saya, kalau memang saya membutuhkan uang itu... Saya hanya akan pasrahkan ke Tuhan dan saya tidak akan menagih ke orang yang bersangkutan... Karena saya merasa karena uang semua orang menjadi sensitif, dan saya termasuk orang yang tidak akan membuat pertemanan rusak hanya karena masalah uang.
Awalnya karena hal ini lah saya menolak menggantikan... Tapi sekarang nasi sudah menjadi bubur. Saya harus melaksanakan tanggung jawab saya sebagai pengepul.
Di bulan pertama, semua berjalan baik-baik saja hanya kesibukan saya yang bertambah. Tidak perlu banyak yang ditagih juga. Bulan kedua, saya sudah mulai terbiasa dengan kesibukan ini.
Mengumpulkan uang angsuran, uang iuran, menyetorkan uang tiap hari menjadi kebiasaan saya di setiap akhir dan awal bulan... Bulan-bulan selanjutnya mulai deh terasa betapa susahnya membuat orang bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Seringkali saya dibuat susah dengan harus menagih berulang-ulang. Meskipun banyak juga anggota yang bertanggung jawab dengan kewajibannya. Saya salut dengan orang-orang ini.. Karena mereka secara tidak langsung dari hal kecil seperti ini bisa dikatakan bahwa mereka adalah orang yang bertanggung jawab dan menghargai pekerjaan orang lain.
Kenapa saya harus menagih? "Kalau tidak ditagih, saya kena marah pengurus yang lain kenapa kok tidak selesai-selesai... Nagih ke yang bersangkutan... kena semprot lagi dengan alasan-alasannya." :(
Sampai bulan ini ada jawaban-jawaban yang membuat saya jengkel... Kenapa mereka tidak berpikir bahwa saya juga punya pekerjaan yang lain, dan yang pasti saya tidak dibayar untuk menjalankan tugas ini. Tugas ini adalah tugas sukarela....
Jawaban-jawaban seperti ini yang membuat saya malas menagih :
(Kondisi siap menagih - dengan membawa bukti pembayaran dan orang nya didatangi satu persatu)
1. Nanti aja masih sibuk. (Padahal saya juga sibuk tapi disempetin demi kepentingan orang banyak)
2. Besok aja ga bawa uang. (Besok ditagih juga ga bawa lagi)
3. Uang kembaliannya jelek cari yang bagus dulu aja. (Ampun deh....)
4. Lho aku sudah waktue bayar ta(Dengan muka tidak percaya dan langsung mencari bukti pembayaran)? rasanya uda kok. (Weleh... ga percaya amat sih... Buktinya juga masih di saya.)
5. Nti ae tak transfer. (Nunggu 2-3 kali ditanya baru ditransfer)
6. Nggerundel. (Emang saya yang mutusin? cuma menjalankan tugas ini)
7. 1 bulan aja ya. (Kalau ga perlu ditagih bayar per 1 bulan jg ga masalah, tapi yang ini sudah susah nagihnya... disuruh bayar beberapa bulan ga mau juga)
(Kondisi tidak siap menagih - tidak membawa bukti pembayaran karena pas ketemu orangnya)
1. Mana buktie dulu? Nanti kl ga ada buktie ditagih lagi. (Emang saya apaan... uang iuran aja di embat, makanya langsung bayar jangan nunggu ditagih)
Padahal di akhir tahun selalu ada pertanyaan, kapan pembagian SHU? gimana bisa dibagi kalau kewajibannya tidak dipenuhi?
Apalagi akhir dan awal tahun, saya jadi orang super sibuk dengan pekerjaan inti saya... eh nih urusan makin sibuk pula karena makin banyak yang harus ditagih.
Capek hati, capek pikiran, capek telinga, capek tenaga... komplit dah...
Sampai saya berpikir, apa mereka berpikir bahwa kerjaan saya cuma ini aja? Karena kesibukan saya yang berlebihan, kerjaan saya di kantor harus sering saya bawa pulang. Tapi mereka tega menjawab masih sibuk... nanti aja.
Saya rasa kata pengepul aja ga cukup. Kalau pengepul berarti saya hanya mengumpulkan uang. Tapi ternyata saya juga penagih hutang. Read More......
Awalnya karena hal ini lah saya menolak menggantikan... Tapi sekarang nasi sudah menjadi bubur. Saya harus melaksanakan tanggung jawab saya sebagai pengepul.
Di bulan pertama, semua berjalan baik-baik saja hanya kesibukan saya yang bertambah. Tidak perlu banyak yang ditagih juga. Bulan kedua, saya sudah mulai terbiasa dengan kesibukan ini.
Mengumpulkan uang angsuran, uang iuran, menyetorkan uang tiap hari menjadi kebiasaan saya di setiap akhir dan awal bulan... Bulan-bulan selanjutnya mulai deh terasa betapa susahnya membuat orang bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Seringkali saya dibuat susah dengan harus menagih berulang-ulang. Meskipun banyak juga anggota yang bertanggung jawab dengan kewajibannya. Saya salut dengan orang-orang ini.. Karena mereka secara tidak langsung dari hal kecil seperti ini bisa dikatakan bahwa mereka adalah orang yang bertanggung jawab dan menghargai pekerjaan orang lain.
Kenapa saya harus menagih? "Kalau tidak ditagih, saya kena marah pengurus yang lain kenapa kok tidak selesai-selesai... Nagih ke yang bersangkutan... kena semprot lagi dengan alasan-alasannya." :(
Sampai bulan ini ada jawaban-jawaban yang membuat saya jengkel... Kenapa mereka tidak berpikir bahwa saya juga punya pekerjaan yang lain, dan yang pasti saya tidak dibayar untuk menjalankan tugas ini. Tugas ini adalah tugas sukarela....
Jawaban-jawaban seperti ini yang membuat saya malas menagih :
(Kondisi siap menagih - dengan membawa bukti pembayaran dan orang nya didatangi satu persatu)
1. Nanti aja masih sibuk. (Padahal saya juga sibuk tapi disempetin demi kepentingan orang banyak)
2. Besok aja ga bawa uang. (Besok ditagih juga ga bawa lagi)
3. Uang kembaliannya jelek cari yang bagus dulu aja. (Ampun deh....)
4. Lho aku sudah waktue bayar ta(Dengan muka tidak percaya dan langsung mencari bukti pembayaran)? rasanya uda kok. (Weleh... ga percaya amat sih... Buktinya juga masih di saya.)
5. Nti ae tak transfer. (Nunggu 2-3 kali ditanya baru ditransfer)
6. Nggerundel. (Emang saya yang mutusin? cuma menjalankan tugas ini)
7. 1 bulan aja ya. (Kalau ga perlu ditagih bayar per 1 bulan jg ga masalah, tapi yang ini sudah susah nagihnya... disuruh bayar beberapa bulan ga mau juga)
(Kondisi tidak siap menagih - tidak membawa bukti pembayaran karena pas ketemu orangnya)
1. Mana buktie dulu? Nanti kl ga ada buktie ditagih lagi. (Emang saya apaan... uang iuran aja di embat, makanya langsung bayar jangan nunggu ditagih)
Padahal di akhir tahun selalu ada pertanyaan, kapan pembagian SHU? gimana bisa dibagi kalau kewajibannya tidak dipenuhi?
Apalagi akhir dan awal tahun, saya jadi orang super sibuk dengan pekerjaan inti saya... eh nih urusan makin sibuk pula karena makin banyak yang harus ditagih.
Capek hati, capek pikiran, capek telinga, capek tenaga... komplit dah...
Sampai saya berpikir, apa mereka berpikir bahwa kerjaan saya cuma ini aja? Karena kesibukan saya yang berlebihan, kerjaan saya di kantor harus sering saya bawa pulang. Tapi mereka tega menjawab masih sibuk... nanti aja.
Saya rasa kata pengepul aja ga cukup. Kalau pengepul berarti saya hanya mengumpulkan uang. Tapi ternyata saya juga penagih hutang. Read More......
Labels: All About Work 4 comments
1.13.2010
Working Under Pressure
1.13.2010
Hari ini.. bisa dikatakan hari sibuk di kantor.. Hal ini dikarenakan besok adalah hari pertama rapat kerja di kantor. Banyak hal yang harus dilakukan dengan waktu yang singkat. Semua orang mencoba mencapai tujuannya sebaik mungkin. Karena adanya banyak hal yang harus dilakukan membuat semua orang bekerja dalam tekanan.
Pernah dengar pertanyaan-pertanyaan ini? Ya pertanyaan ini sering kita dengar saat wawancara kerja.
Masih ingat dengan jelas dipikiranku saat wawancara sebelum masuk kerja. Saat itu, aku mendapat pertanyaan "Apakah bisa bekerja di bawah tekanan?" Karena aku merasa bisa bekerja dengan deadline-deadline, dan merasa pernah merasakannya di organisasi yang aku ikuti di kuliah, maka aku selalu menjawab "YA". Di kantor ini, sudah beberapa kali aku mengalami nya, dan aku berhasil melewatinya. Thx God.
Tapi hari ini aku menyadari bahwa tidak semua orang bisa bekerja di bawah tekanan, sekalipun mereka yang sudah berpengalaman. Kok bisa aku tau? Ya...Hari ini aku dapat 2 "jackpot". "Jackpot" yang aku rasa tidak pernah pasang sebelumnya... :D Aku cuma bisa menerima dan berusaha meluruskannya.
Meskipun saat aku mendapat "jackpot", seperti biasa aku akan langsung sakit hati... Tapi dalam perjalanan pulang tadi, aku merasa sudah mendapatkan sesuatu yang selama ini susah aku lakukan..Hari ini aku bisa menguji kesabaranku. Ternyata tingkat kesabaranku sudah meningkat. Aku bisa menjawab tanpa emosi, meskipun hatiku sakit karena "jackpot" itu. Wah, benar-benar pelajaran berharga yang aku dapat hari ini. Semoga "jackpot-jackpot" itu berguna untuk masa depanku. Read More......
Can you work under pressure?
Tell me about a time you were stressed.
Can you handle stress?
What happens to you when you are pressured?
Tell me about a time you were stressed.
Can you handle stress?
What happens to you when you are pressured?
Pernah dengar pertanyaan-pertanyaan ini? Ya pertanyaan ini sering kita dengar saat wawancara kerja.
Masih ingat dengan jelas dipikiranku saat wawancara sebelum masuk kerja. Saat itu, aku mendapat pertanyaan "Apakah bisa bekerja di bawah tekanan?" Karena aku merasa bisa bekerja dengan deadline-deadline, dan merasa pernah merasakannya di organisasi yang aku ikuti di kuliah, maka aku selalu menjawab "YA". Di kantor ini, sudah beberapa kali aku mengalami nya, dan aku berhasil melewatinya. Thx God.
Tapi hari ini aku menyadari bahwa tidak semua orang bisa bekerja di bawah tekanan, sekalipun mereka yang sudah berpengalaman. Kok bisa aku tau? Ya...Hari ini aku dapat 2 "jackpot". "Jackpot" yang aku rasa tidak pernah pasang sebelumnya... :D Aku cuma bisa menerima dan berusaha meluruskannya.
Meskipun saat aku mendapat "jackpot", seperti biasa aku akan langsung sakit hati... Tapi dalam perjalanan pulang tadi, aku merasa sudah mendapatkan sesuatu yang selama ini susah aku lakukan..Hari ini aku bisa menguji kesabaranku. Ternyata tingkat kesabaranku sudah meningkat. Aku bisa menjawab tanpa emosi, meskipun hatiku sakit karena "jackpot" itu. Wah, benar-benar pelajaran berharga yang aku dapat hari ini. Semoga "jackpot-jackpot" itu berguna untuk masa depanku. Read More......
Labels: About Me All About Work Life 1 comments
9.10.2009
PROF atau SELAMAT
9.10.2009
Terpikir menuliskan ini untuk mengetahui pendapat teman-teman terhadap dunia kerja yang penuh persaingan. Hal ini diilhami dari cerita teman-teman yang sudah mulai berada di dunia kerja. Sering kali di tempat kerja kita dihadapkan pada suatu pilihan. Apakah kita akan tetap bertindak profesional atau bertindak kurang profesional tapi itu menyelamatkan diri kita sendiri.
Pada awal kita memasuki dunia kerja setelah lulus, kita akan menjadi seorang yang idealis dengan prinsip kita bahwa kita bekerja dan apa yang kita kerjakan itulah yang dibayar. Pasti akan timbul rasa tidak enak apabila kita dibayar tetapi tidak melakukan apa-apa. Beban mental itu pasti ada. Tapi apakah kita bisa bertahan dalam prinsip itu saat kita mengetahui bagaimana dunia kerja yang sesungguhnya?
Read More......
Pada awal kita memasuki dunia kerja setelah lulus, kita akan menjadi seorang yang idealis dengan prinsip kita bahwa kita bekerja dan apa yang kita kerjakan itulah yang dibayar. Pasti akan timbul rasa tidak enak apabila kita dibayar tetapi tidak melakukan apa-apa. Beban mental itu pasti ada. Tapi apakah kita bisa bertahan dalam prinsip itu saat kita mengetahui bagaimana dunia kerja yang sesungguhnya?
Banyak orang yang bekerja untuk mencari kedudukan (kedudukan akan identik dengan upah) dan melakukan apapun untuk dirinya sendiri. Orang-orang yang seperti ini menciptakan dunia kerja yang penuh persaingan, atau yang lebih dikenal dengan "sikut-sikutan". Kata-kata ini sering terdengar oleh kita apalagi bila orang tua kita bekerja menjadi pegawai di suatu kantor, tapi kita tidak pernah berpikir bahwa kita pada akhirnya akan berada pada situasi yang sama.
Saat kita dihadapkan pada situasi ini, apakah kita bisa bertahan dengan profesionalisme kita? Apakah kita tidak mungkin berubah menjadi seseorang yang sedikit "EGOIS" karena tentunya kita ingin mempertahankan posisi kita sebaik mungkin? Meskipun pada awalnya tidak ada pikiran sedikitpun untuk berada di dunia persaingan kerja dengan rekan kerja kita.
Apabila anda berada di situasi itu, apa yang akan anda lakukan?
*. Anda mundur perlahan dan mencari tempat yang bebas persaingan?
*. Anda maju terus dengan profesionalisme yang tetap?
*. Anda maju dengan mengurangi profesionalisme?
Apabila saya ada di situasi ini, sungguh pilihan yang sulit untuk memutuskan langkah mana yang harus saya ambil, karena menurut saya dalam lingkungan kerja seharusnya tidak ada persaingan yang merugikan (co : Persaingan mencari muka untuk mengejar kedudukan). Akan lebih baik apabila persaingan itu diubah menjadi suatu kerjasama yang baik, yang mendukung perusahaan secara penuh tanpa membedakan apapun. Tanpa persaingan yang kotor pun, saat kita memberikan terbaik yang kita miliki, saya yakin posisi apapun dapat kita capai.
Saya sering mendengar untuk membalas kejahatan dengan kebaikan, tetapi kalau kita pikir secara logika untuk hal ini di dunia kerja. Hal ini tidak mungkin bisa dilaksanakan. Karena yang kita hadapi itu sama seperti kita manusia yang menilai dari apa yang kita buat. Saat kita memilih untuk tetap menjadi profesional, maka MUJIZAT TUHAN lah yang kita butuhkan.
Nah, bagaimana kalau teman-teman dihadapkan pada situasi ini? Langkah apa yang akan kalian ambil?
Thx.
Labels: All About Work Life 5 comments
Subscribe to:
Posts (Atom)


